Jejak Hijau dari Jambi: Plepah dan Mimpi Menyelamatkan Bumi
Ada pemandangan manis sekaligus miris selama bulan Ramadan. Sisi positif adalah banyaknya orang bersedekah dalam bentuk makanan untuk berbuka puasa. Namun pada saat yang sama, ada kenyataan memilukan yang seolah sudah dimaklumkan. Apalagi kalau bukan penggunaan styrofoam secara masif untuk membungkus makanan yang dibagikan secara gratis.
Styrofoam dipilih karena harga yang sangat murah dan bentuk yang tampak solid. Namun pemakaian secara berlebihan itu telah menjadi persoalan lingkungan yang serius, terutama di Indonesia dan negara-negara mayoritas Muslim lainnya karena bulan suci memang selalu identik dengan meningkatnya aktivitas kuliner.
![]() |
| Gunung sampah styrofoam, sampah abadi yang berbahaya (dok. citarumharum.jabarprov.go.id) |
Ironi kebaikan
Bukankah miris karena amal baik akhirnya menyisakan masalah tragis, yaitu berlimpahnya sampah styrofoam yang sulit diurai di alam? Kita tahu styrofoam tidak pernah benar-benar hilang. Ia terurai jadi mikroplastik yang mencemari tanah, air, dan biota laut.
Kandungan kimianya seperti styrene dan benzene bersifat racun, berbahaya bagi hewan dan manusia. Bahkan ketika dibakar pun, styrofoam melepaskan gas berbahaya yang memperburuk polusi udara dan gangguan pernapasan.
Bayangkan suasana hangat bertegur sapa, semangat berbagi di mana-mana, dan kebersamaan dalam bulan mulia harus ternoda oleh pencemaran lingkungan--termasuk sisa makanan yang tak kalah mengkhawatirkan.
Kemasan plastik dan kotak styrofoam teronggok di mana-mana: di pinggir jalan hingga sejumlah TPA. Ini diperkuat dengan kajian di beberapa kota besar di Indonesia bahwa volume sampah plastik dan styrofoam meningkat hingga 20–30% selama Ramadan. Jangan heran jika tempat sampah meluap dengan kemasan bekas yang sebagian besar berakhir di sungai dan saluran air. Begitu hujan turun, sampah ini lantas hanyut ke laut, memperparah pencemaran.
Dari resah, lahirlah Plepah
Kabar baiknya, berbagai komunitas mulai melawan kebiasaan ini. Di Bandung, Yogyakarta, dan Makassar, gerakan anak muda serta komunitas lokal mulai mempromosikan kemasan ramah lingkungan misalnya daun pisang, kotak kertas, dan produk berbahan pelepah pinang seperti yang dibuat oleh Plepah.
![]() |
| Proses pembuatan piring dan mangkuk ala Plepah (dok. kompas.id) |
Plepah adalah perusahaan rintisan yang didirikan oleh Rengkuh Banyu Mahandaru sebagai solusi terhadap persoalan sampah plastik. Lewat inovasi ini, Plepah memanfaatkan pelepah pinang untuk disulap menjadi kemasan makanan ramah lingkungan seperti piring dan mangkuk yang dapat terurai secara alami.
Ide cemerlang itu lahir dari keresahan Rengkuh terhadap meningkatnya limbah kemasan sekali pakai yang mencemari lingkungan, yang mendorongnya untuk menciptakan alternatif berkelanjutan bagi masa depan yang lebih hijau. Ini ikhtiar kecilnya untuk mengambil dan mengembalikan kebaikan alam.
“Sebenarnya menggunakan bahan alami untuk pembungkus makanan bukan hal baru bagi masyarakat kita,” kata Rengkuh. Ini menegaskan bahwa masyarakat Nusantara sebenarnya sudah akrab dengan kemasan alami yang lebih eco-friendly.
![]() |
| Jejak hijau Plepah, jejak kebaikan pembawa berkah (dok. Plepah) |
Perjalanan Rengkuh bukan dimulai dari laboratorium atau ruang rapat, melainkan dari keresahan kecil dalam rutinitasnya. Profesinya sebagai seorang desainer produk jebolan ITB mengharuskan dia bekerja di kantor sejak pagi hingga sore dan sering memesan makan siang dalam wadah plastik atau styrofoam.
“Suatu waktu saya pernah pesan makanan; yang dipesan satu, tapi yang datang tiga packaging semua styrofoam,” kenangnya dalam acara Kick-off SATU Indonesia Awards ke-15 tahun 2024 silam.
Pengalaman itu meninggalkan kesan mendalam. Ia
sadar bahwa kemasan yang tampak praktis ini diam-diam menyembunyikan fakta kelam: styrofoam
bisa memakan waktu hingga satu juta tahun untuk terurai. Menurut laporan
Bloomberg, Indonesia tercatat menggunakan sekitar 600 juta kemasan styrofoam setiap
bulan, dan 47% di antaranya berasal dari layanan pesan antar online.
Kesadaran rengkuh kian menguat ketika ia menyelam di Wakatobi. “Saat saya melakukan diving di Wakatobi, yang banyak sampah styrofoam, bukan ikan. Dari sana saya tergerak untuk melihat potensi-potensi kemasan ramah lingkungan di Indonesia,” ujarnya pilu.
Di bawah birunya laut
Indonesia, yang ia tangkap bukan lagi keindahan karang, melainkan jejak kelalaian
manusia. Dari sanalah tekadnya tumbuh: ingin mencari alternatif kemasan makanan yang biodegradable,
praktis, dan berakar pada kearifan lokal.
Plepah pembawa berkah
Pengalaman di India semakin memperkaya inspirasinya. Di sana masyarakat setempat masih menggunakan daun-daunan sebagai wadah makanan. Terasa sederhana, ramah lingkungan, dan mudah terurai.

Dari alam untuk alam, Plepah lahir membawa berkah (dok. IG Plepah)
“Kita juga dulu kan membungkus makanan dengan daun-daunan,” tegasnya. Hanya saja perkembangan zaman membuat kita terlupa terhadap warisan budaya dan kebiasaan para leluhur yang menghargai alam.
Titik balik itu terjadi pada tahun 2018. Saat bekerja di
Jambi, Rengkuh menemukan banyak pelepah pinang terbuang begitu saja. Bagi petani,
itu tak lain hanyalah limbah pertanian yang tak berharga. Namun bagi Rengkuh, yang terbiasa berpikir desain,
pelepah itu punya potensi besar. Dari situlah lahir ide untuk menciptakan
kemasan ramah lingkungan.
Plepah kemudian berdiri sebagai sebuah social enterprise
yang mengubah limbah pertanian menjadi kemasan makanan ramah lingkungan,
sekaligus memberdayakan masyarakat desa. Nama “Plepah” sendiri, sebagaimana bisa diduga, berarti pelepah
pinang, yang merupakan simbol transformasi dari sampah menjadi berkah.
Bersama NGO konservasi hutan, ia membangun sistem produksi berbasis komunitas. Prosesnya sederhana tapi berdampak besar. Mula-mula pelepah yang jatuh dikumpulkan, dibersihkan, lalu dipres menjadi piring dan wadah makanan yang kuat, tahan panas, dan 100% terurai dalam 60 hari.
Kini, Plepah
bekerja sama dengan lebih dari 3.000 petani di berbagai desa, meningkatkan
pendapatan mereka hingga Rp3 juta per bulan, dengan produksi lebih dari 100.000
kemasan per bulan.

Menghargai alam, Plepah anut semangat pemberdayaan. (dok. IG Plepah)
Tantangan dan peluang
Namun perjalanan Plepah tidaklah mudah. Rengkuh mengaku riset, pendanaan, dan edukasi menjadi tantangan berat.
“Jauh sebelum rantai pasok terbangun, kami juga kesulitan meyakinkan bahwa ini punya value ekonomi."
Kendati Plepah menawarkan solusi terhadap masalah kemasan tidak ramah lingkungan yang begitu mengganggu di kota besar, tapi yang tak kalah berat adalah mengubah pola pikir, bukan semata menciptakan produk.
Berkat kesabaran dan keuletan, perlahan-lahan hasilnya pun mulai terlihat. Plepah kini berhasil menembus pasar internasional, mulai dari Jepang, Australia, hingga Eropa. Di luar negeri,
produk ini dijual hingga Rp5.000 per buah. Dan permintaan datang dari Jerman,
Swedia, Belanda, juga Kanada, rata-rata satu kontainer berisi 200.000 produk.
Tak berhenti di situ, Plepah kini mengembangkan riset energi biomassa. Yang semula dihadapkan pada tantangan, Rengkuh dan timnya akhirnya mampu mengubah limbah pertanian menjadi sumber energi terbarukan. Sebagai apresiasi, tahun 2023 Plepah mewakili Indonesia di Hannover Messe Jerman dalam pameran teknologi industri terbesar di dunia.

Rengkuh mensyukuri ikhtiar pemberdayaan dan penghargaan atas alam. (dok. swa.co.id)
Momen berharga lain yang diakui Rengkuh sangat berpengaruh adalah penghargaan bergengsi SATU Indonesia Awards dari PT Astra International Tbk untuk kategori lingkungan.
“Lewat penghargaan ini, saya merasa mendapat pengakuan atas inovasi yang memiliki dampak kelestarian lingkungan,” ucap Rengkuh penuh syukur. Bukan sekadar desain yang dihasilkan, tetapi juga keberlanjutan dan spirit pemberdayaan yang diusung Plepah.
Gerak yang terus berdetak
Kiprah Plepah yang digagas Rengkuh membuktikan satu hal. Dari keresahan kecil soal sampah plastik, seorang pemuda bisa memanfaatkan sampah alami menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan. Plepah adalah simbol harapan hijau Indonesia. Di sinilah tempat di mana inovasi,
kearifan lokal, dan pemberdayaan berpadu untuk menyembuhkan bumi.

Minimalkan sampah, manfaatkan yang ada. (dok Plepah)
Gerak yang dimulai Rengkuh ibarat riak yang menciptakan gelombang manfaat bagi petani dan warga setempat dengan memanfaatkan kearifan lokal. Plepah bukan hanya telah memberikan pendapatan berkelanjutan bagi petani dan masyarakat lokal. Lebih dari itu, dengan menjual kemasan biodegradable yang dibuat dari sampah, mereka memetik pelajaran besar tentang pemeliharaan alam tempat kita lahir, tumbuh, dan dibesarkan dan mencari makanan.
Sebagaimana kalimat sederhana yang menjadi slogan Plepah bahwa langkah kecil bisa menimbulkan dampak besar bagi kelestarian bumi. Produk Plepah semuanya 100% bisa menjadi pupuk alami jika tidak lagi dimanfaatkan. Dengan demikian, ia menjadi solusi untuk meninggalkan jejak hijau demi menyelamatkan planet bumi.
Setiap piring yang dibuat Plepah adalah bukti bahwa keberlanjutan bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan. Dari tangan-tangan petani di Jambi hingga meja makan di dunia, kisah Rengkuh mengingatkan kita bahwa perubahan besar bisa lahir dari langkah kecil yang tulus untuk bumi. Dari gerak berlandas peduli yang meluaskan manfaat penuh inspirasi.



Comments
Post a Comment