Jejak Hijau dari Jambi: Plepah dan Mimpi Menyelamatkan Bumi
Ada pemandangan manis sekaligus miris selama bulan Ramadan. Sisi positif adalah banyaknya orang bersedekah dalam bentuk makanan untuk berbuka puasa. Namun pada saat yang sama, ada kenyataan memilukan yang seolah sudah dimaklumkan. Apalagi kalau bukan penggunaan styrofoam secara masif untuk membungkus makanan yang dibagikan secara gratis. Styrofoam dipilih karena harga yang sangat murah dan bentuk yang tampak solid. Namun pemakaian secara berlebihan itu telah menjadi persoalan lingkungan yang serius, terutama di Indonesia dan negara-negara mayoritas Muslim lainnya karena bulan suci memang selalu identik dengan meningkatnya aktivitas kuliner. Gunung sampah styrofoam, sampah abadi yang berbahaya (dok. citarumharum.jabarprov.go.id) Ironi kebaikan Bukankah miris karena amal baik akhirnya menyisakan masalah tragis, yaitu berlimpahnya sampah styrofoam yang sulit diurai di alam? Kita tahu styrofoam tidak pernah benar-benar hilang. Ia terurai jadi mikroplastik yang mencem...