Posts

Showing posts from September, 2025

Kampoeng Kopi Banaran, Tempat Liburan Keluarga Berkesan

Image
Sosis pisang khas Kampoeng Kopi Banaran lezat menemani kopi. (dok. pri) Liburan mungkin jadi kata yang membingungkan bagi warga Konoha, eh, Indonesia. Setidaknya kata ini menyiratkan beban besar di pundak mereka. Betapa tidak, biaya liburan di negara ini malah lebih besar kalau terbang secara domestik. Dibandingkan ke Singapura atau Australia, tiket pesawat ke Aceh dari Jakarta malah terbilang menyesakkan dada. Itulah sebabnya istilah liburan tipis-tipis akhirnya muncul ke permukaan. Orang-orang ingin tetap bisa berlibur dengan biaya yang meringankan. Ya ringan bagi kantong, juga dari segi jarak tempuh yang tidak melelahkan. Wisata tak harus jauh, yang penting enjoy bersama orang-orang tersayang--misalnya sahabat atau keluarga tercinta.

Rumah Hobit di Umbul Sidomukti Semarang

Image
Liburan ke Semarang sungguh sulit dilupakan. Galau kalau masih dirawat dalam ingatan. Karena pengin terus datang dan mencicipi aneka makanan. Ketemu teman dan mengobrolkan banyak hal--terutama masa silam--betul-betul jadi klangenan. Kerinduan terbayarkan lewat percakapan yang menguatkan. Tak terkecuali Umbul Sidomukti di Gunung Ungaran, yang bukan cuma menawarkan kopi tetapi juga eksotisme pemandangan alam--terutama kolam renang di atas awan. Rumah hobit cukup kecil, tak mungkin muat bagi orang kebanyakan.

Membaca Sejak Belia, Bangun Dunia Seluasnya

Image
Baca buku itu seru, sejak belia jangan terburu Memang aneh negara kita ini, mau maju tapi enggan membaca. Ingin mencapai kemakmuran, tapi faktanya kita tak sedikit yang berjauhaan dari tulisan. Membaca membuka cakrawala dunia, menciptakan dunia baru yang bahkan kita tak menyadarinya. Dari tulisan kita bergerak dan akhirnya hidup dalam berbagai kemungkinan. Dari buku kita melahirkan diri terus-menerus tanpa terburu untuk menjadi sosok yang hanya bisa meniru. Kesalahan awal adalah sebab tidak dimulai sejak belia. Anak-anak tidak dibiasakan membaca buku saat mereka masih kanak. Akhirnya mereka asing terhadap bacaan, dan semakin jauh sebab lebih akrab dengan gawai yang seolah membuka gerbang tanpa batasan. Apakah betul faktanya demikian?