Posts

Breaking the Silence: Alvinia and the Gentle Revolution of Teman Autis

Image
The laughter of children can sometimes hide the cruelest words. This is what happened in my classroom in Semarang back in 2005. A kid with autism once sat quietly as his classmates whispered, giggled, and called him “weird”—not as a description, but as an insult. He was often an object of ridicule due to his difference. In fact, he was actually the brightest student that excels in English. That scene immediately reminds me of a book I recently read. How Can I Talk If My Lips Don’t Move is a book written by Tito Rajarshi Mukhopadhyay who was diagnosed in early childhood with severe or low-functioning non-verbal autism. This book reflects how a young man receives and processes information in various ways. A book by an autistic young man recounting how he perceives the world (Photo: personal doc) While he clearly sees the world in a different way, his observation and experience is absolutely important. From Tito I learn that someone with autism who cannot speak doesn’t mean he hasn’t...

Going Through a Rough Patch: Life Can Be This Miraculous

Image
My wife and I arrived home around 8:30 in the evening. I had just finished teaching at a tutoring center, and she had just returned from teaching Quran lessons at a nearby TPQ. On days like this—when I had a class after Maghreb—I usually dropped her off before heading to my own teaching session, then picked her up a few hours later. She would wait for me at a small roadside café, typing away on her laptop while sipping sweet iced tea. That night was no different. We exchanged a few words, each of us half-absorbed in our phones, our minds heavy with worry. My proofreading payment, due almost two weeks earlier, still hadn’t been transferred. For freelancers like us, payment delays are no small matter. They decide whether the kitchen keeps running, whether the children can have their snacks at school, whether tomorrow feels secure or uncertain. Just like coffee, life sometimes reveals a mystery What to expect When we finally reached the porch, fatigue weighed on both of us. My wife ha...

Jejak Hijau dari Jambi: Plepah dan Mimpi Menyelamatkan Bumi

Image
Ada pemandangan manis sekaligus miris selama bulan Ramadan. Sisi positif adalah banyaknya orang bersedekah dalam bentuk makanan untuk berbuka puasa. Namun pada saat yang sama, ada  kenyataan memilukan yang seolah sudah dimaklumkan. Apalagi kalau bukan penggunaan styrofoam secara masif untuk membungkus makanan yang dibagikan secara gratis.  Styrofoam dipilih karena harga yang sangat murah dan bentuk yang tampak solid. Namun pemakaian secara berlebihan itu telah menjadi persoalan lingkungan yang serius, terutama di Indonesia dan negara-negara mayoritas Muslim lainnya karena bulan suci memang selalu identik dengan meningkatnya aktivitas kuliner. Gunung sampah styrofoam, sampah abadi yang berbahaya (dok. citarumharum.jabarprov.go.id) Ironi kebaikan Bukankah miris karena amal baik akhirnya menyisakan masalah tragis, yaitu  berlimpahnya sampah styrofoam yang sulit diurai di alam? Kita tahu  styrofoam tidak pernah benar-benar hilang. Ia terurai jadi mikroplastik yang mencem...

Kampoeng Kopi Banaran, Tempat Liburan Keluarga Berkesan

Image
Sosis pisang khas Kampoeng Kopi Banaran lezat menemani kopi. (dok. pri) Liburan mungkin jadi kata yang membingungkan bagi warga Konoha, eh, Indonesia. Setidaknya kata ini menyiratkan beban besar di pundak mereka. Betapa tidak, biaya liburan di negara ini malah lebih besar kalau terbang secara domestik. Dibandingkan ke Singapura atau Australia, tiket pesawat ke Aceh dari Jakarta malah terbilang menyesakkan dada. Itulah sebabnya istilah liburan tipis-tipis akhirnya muncul ke permukaan. Orang-orang ingin tetap bisa berlibur dengan biaya yang meringankan. Ya ringan bagi kantong, juga dari segi jarak tempuh yang tidak melelahkan. Wisata tak harus jauh, yang penting enjoy bersama orang-orang tersayang--misalnya sahabat atau keluarga tercinta.

Rumah Hobit di Umbul Sidomukti Semarang

Image
Liburan ke Semarang sungguh sulit dilupakan. Galau kalau masih dirawat dalam ingatan. Karena pengin terus datang dan mencicipi aneka makanan. Ketemu teman dan mengobrolkan banyak hal--terutama masa silam--betul-betul jadi klangenan. Kerinduan terbayarkan lewat percakapan yang menguatkan. Tak terkecuali Umbul Sidomukti di Gunung Ungaran, yang bukan cuma menawarkan kopi tetapi juga eksotisme pemandangan alam--terutama kolam renang di atas awan. Rumah hobit cukup kecil, tak mungkin muat bagi orang kebanyakan.

Membaca Sejak Belia, Bangun Dunia Seluasnya

Image
Baca buku itu seru, sejak belia jangan terburu Memang aneh negara kita ini, mau maju tapi enggan membaca. Ingin mencapai kemakmuran, tapi faktanya kita tak sedikit yang berjauhaan dari tulisan. Membaca membuka cakrawala dunia, menciptakan dunia baru yang bahkan kita tak menyadarinya. Dari tulisan kita bergerak dan akhirnya hidup dalam berbagai kemungkinan. Dari buku kita melahirkan diri terus-menerus tanpa terburu untuk menjadi sosok yang hanya bisa meniru. Kesalahan awal adalah sebab tidak dimulai sejak belia. Anak-anak tidak dibiasakan membaca buku saat mereka masih kanak. Akhirnya mereka asing terhadap bacaan, dan semakin jauh sebab lebih akrab dengan gawai yang seolah membuka gerbang tanpa batasan. Apakah betul faktanya demikian?  

Silaturahmi Perekat Hati, Jalinan Penarik Rezeki

Image
KUmpul-kumpul bareng teman sangat menyenangkan. Bukan hanya sebagai wadah klangenan, melepas rindu dan menyalakan kenangan--tetapi juga merajut kekuatan baik secara mental dan bahkan ekonomi. KIta tahu dari hadis bahwa silaturahmi bisa menjadi penaik rezeki dan itu valid. Masalahnya tidak semua kumpulan menjanjikan kegembiraan. Kadang malah kebosanan dan kemuakan yang didapatkan. Semua tergantung siapa yang datang. Teman-teman karib yang memahami dan menguatkan akan kita rindukan, sayang untuk dilewatkan perjumpaan. Sebaliknya, mereka yang hanya menjadi duri dan menyimpan ancaman, rasanya kita enggan dan bahkan malas untuk sekadar saling berjabat tangan. Inilah gunanya memilih teman, bukan lantaran favoritisme melainkan dorongan untuk menciptakan ekosistem persahabatan yang teguh dan mengajak terus pada kebaikan. Kalau kebaikan yang jadi prioritas, ya insyaallah pendar peluang dan kanal rezeki akan terbuka--terus berdatangan!